Entah kenapa rasanya “Tak perlu menunggu sempurna untuk memulai”
udah jadi prinsip yang selalu saya pegang saat ini. Ya, dalam hal apapun itu,
tidak hanya dalam mengembangkan produk. Dan sejauh ini, saya sering sekali
merasakan manfaatnya dengan menerapkan prinsip ini.
Sebenarnya bukannya saya nggak mau memulai sesuatu dengan
sempurna, tapi sering kali keadaan tidak mendukung untuk sempurna. Dan untuk
menunggu sampai sempurna tentu sangat lama. Alhasil, biasanya saya akan
memulainya walaupun belum sempurna. Karena saya rasa adakalanya perfectionist
itu menghambat pergerakan.
Dalam memulai tanpa harus menunggu sempurna bukan berarti tanpa
persiapan lho. Maksudnya adalah kita bisa memulai dengan apa yang dipunya saat
ini. Sebagai contoh saya ingin sekali memulai hidup sehat dengan lari pagi, ya
paling tidak 2 kali seminggu. Idealnya untuk lari pagi, saya harus menggunakan
sepatu lari dan pakaian lari yang cocok. Namun karena keterbatasan, saya belum
memilikinya. Lantas, apakah saya harus menunggu semuanya saya miliki dulu baru
kemudian lari, atau lari saja dengan apa yang dimiliki. Itulah maksud saya.
Karena tujuan larinya adalah sehat, kenapa repot-repot menunggu apa yang tidak
dimiliki. Lari saja. Kemudian, sedikit demi sedikit lengkapi apa yang belum
dimiliki.
Dan ternyata tidak ada masalah dengan lari dengan hanya apa yang
dimiliki. Jika belum punya sepatu lari, memangnya kenapa lari dengan sepatu
biasa? Jika belum punya baju khusus lari, memangnya kenapa jika menggunakan
kaos biasa? Bukankah semua efeknya sama saja? Untuk memulai, kenapa harus
repot-repot dengan apa yang belum dimiliki.
Mungkin demikian dengan memulai startup atau memulai bisnis.
Memang akan lebih baik jika persiapan kita matang dan sempurna, seperti keadaan
keuangan sudah stabil, ada kantor, ada karyawan dan ada investor yang siap
mendukung. Namun kapankah itu? Mengapa tidak memulai saja dengan apa yang
dimiliki? Kemudian lengkapi sambil jalan apa yang belum ada, sehingga suatu
saat telah sempurna kita bukan lagi dalm keadaan baru memulai, tetapi sedang berkembang.
Jika memang keadaan keuangan belum stabil, apa salahnya memulai startup sambil
bekerja? Jika belum punya kantor sendiri, memang apa salahnya dengan memulai
dari rumah atau garasi? Jika belum ada karyawan, apa salahnya dengan memulai
sendiri dulu atau berdua dengan partner? Tidak perlu repot-repot menunggu
sempurna untuk memulai, mulailah dengan yang dimiliki dulu.
Sekali lagi, memulai dengan apa yang dimiliki bukan berarti kita
tanpa persiapan lho. Karena dalam beberapa hal, kita harus memulai dengan
standar minimun dari sesuatu yang ingi kita mulai. Misalnya saja kita ingin
berjualan online, maka paling tidak kita punya sesuatu yang akan dijual. Bukan
berarti langsung memulai tapi yang dijual malah nggak ada, lantas mau ngapain?
Ketika berjualan online, idealnya kita memiliki barang dagangan yang akan kita
jual secara online, sebuah online store atau website tempat kita berjualan
online dan kantor untuk operasional. Tapi tentu biayanya cukup besar untuk itu
semua harus dimiliki dulu. Kalau belum punya website sendiri, mengapa tidak
memulainya dengan berjualan online di Facebook atau marketplace seperti
TokoPedia dulu? Kantor, di rumah sajalah. Nanti dari keuntungan yang ada bisa
membangun website sendiri atau bisa bikin kantor sendiri.
Tulisan saya, mungkin agak acak-acakan kali ini, karena udah
beberapa hari ini saya kurang fit, tapi pengen banget nulis tentang tema ini.
So… intinya saya mau bilang, jangan menunggu semuanya untuk sempurna dulu
lantas baru memulai! Mulailah dengan apa yang dimiliki saat ini!

About the Author